Breaking News
Jakarta, Indonesia

Tips Korupsi Sang Kepala Sekolah…

indonesiasatu, 24 Nov 2018,
Share w.App T.Me

PENDIDIKAN - “Aku tak percaya Kepala Sekolah bisa korupsi, ndak ada uang yang bisa dikorupsi di sekolah tu pak!” kataku saat seorang kepala sekolah menginap di rumah ku.

“Jangan salah Boy, malah di sekolah itu yang gampang untuk korupsi, dan banyak objek untuk dikorupsi.” balas beliau tak mau kalah.

“Contohnya apa Pak?”

“Gini Boy, sekolah tu kan punya Biaya Perwatan Sekolah. Biasanya sebelum uang pemeliharaan itu cair, sekolah dikasih tahu dulu bahwa dananya akan cair sesuai dengan peruntukannya. Misalkan dana itu cair untuk pembelian bangku baru. Karena kepastian uang turun sudah dikasih tahu, kepala sekolah akan memanggil ketua BP3 atau Ketua POMG, kalau sekarang namanya Ketua Komite Sekolah. Dalam pertemuan itu Kepala Sekolah menyampaikan bahwa dia punya keinginan untuk membeli bangku baru untuk mengganti bangku yang rusak, maka untuk itu kita perlu melakukan Rapat Komita Sekolah. Untuk lebih meyakinkan kepala sekolah memberikan rancangan anggaran untuk pembelian bangku sekolah yang merupakan proposal yang diajukan sebelumya ke pusat, tapi kali ini proposal yang sama juga diajukan kepada wali murid lewat komite sekolah.”

“Kalau Ketua Komite Sekolahnya kritis, dia tahu tentang dana untuk perawatan sekolah, maka Kepala Sekolah akan katakan apa adanya, kalau ada dana akan turun untuk beli bangku, dan dia juga akan dapat bagian nantinya,  jika sekolah bisa menarik uang dari wali murid untuk beli bangku dengan proposal yang sama.” jelasnya dengan wajah serius.

“Terus gimana dong pak, dengan para guru atau dengan Kepala Dinas, mereka kan tahu juga tentang dana beli bangku yang akan turun ini.” kejarku.

“Kalau para guru itu soal gampang, karena kepala sekolah atasannya maka mereka tak akan bisa apa-apa, mereka akan takut pada kepala Sekolah, kenaikan pangkat dan penilaian evaluasi kerjanya membutuhkan tandatangan kepala Sekolah sebagai atasannya, apa lagi guru honor, mereka lebih takut lagi. Sementara itu, kalau dana itu langsung ke rekening Kepala Sekolah atau rekening sekolah tanpa melalui dinas atau kepala dinasnya memang orangnya tak mau tahu, maka dia akan dilewatkan saja oleh Kepala Sekolah alias “mansur” makan surang, tapi kalau Kepala Dinasnya “galadieh” juga alias mata duitan, dia harus ikut diajak serta, bahkan kalau Kepala Sekolahnya jujur ide-ide “kreatif” itu malah datang dari Kepala Dinas dengan sedikit penekanan “bawahan atasan” untuk bisa menikmati “easy money” ini.” jelasnya dengan lebih serius lagi.

“Singkat cerita, komite sekolah pun rapat, setuju untuk membayar “Uang Bangku” ini, dan dana dari pusatpun cair, maka bangku pun dibeli. Bangku ini difoto dan dilampirkan dalam laporan keuangan yang akan dikirimkan ke pusat dan laporan ke Komite Sekolah, “semua happy.” Jadi kalau ada audit nanti dari pusat “Bangku yang sama bisa dikasih lihat, dan untuk para wali murid, bangku yang sama juga dijadikan sebagai bukti. Dan korupsi ini lolos tanpa ada bukti, walaupun ada yang iri, para guru yang tidak kebagian, ha ha ha.” dia merasa lucu.

“Uang Bangku” ini harus segera dibagi, kalau tak segera dibagi akan ada yang nyanyi, karena semangkin lama waktu pembagian nanti “paduan suara Kepala Sekolah, Ketua Komite, dan Kepala Dinas, serta pihak yang terlibat lainnya, akan jadi sumbang alias bocor.” sambung pak kepsek ini.

“Jadi intinya salah satu  jurus yang dipakai oleh Kepala Sekolah untuk melakukan korupsi di sekolah adalah dengan memakai “dua anggaran untuk satu proyek,” kalau gitu sama dong Pak dengan apa yang saya baca di koran dengan “jurus”  korupsi yang dilakukan salah seorang “Wali Kota” lewat Kepala Dinas “Sampah” dengan menggunakan dua sumber dana “Iyuran Sampah Masyarakat” dan APBD untuk “pengelolaan Sampah”, berkolusi dengan para anggota DPRD dan Perusahaan Pengelola sampah. Pengangkutan sampahnya sempat tertunda dan membusuk karena “bagi-baginya gak rata.” benar-benar sederhana ya Pak.

“Iya…, lainnya lagi seperti “Pemaksaan Pembelian Baju Seragam di Sekolah” berkolusi dengan penjual baju, beli buku dengan penerbit. Kalau sekolahnya itu RSBI/SI korupsinya bisa lebih banyak lagi, karena UU memberikan kesempatan pada sekolah RSBI/SBI untuk menarik uang dari wali murid dengan alasan butuh dana operasional lebih dalam proses belajar mengajarnya, padahal bantuan dana yang diberikan pusat pada RSBI/SBI itu jauh lebih besar daripada dana yang diberikan pada sekolah biasa loh. Pada umunya korupsi ini berjamaah dengan Komite Sekolah, Kepala Dinas, dan pejabat lebih tinggi lainnya, karena untuk dapat status RSBI/SBI kadang-kadang juga harus nyogok ke pusat.” terangnya.

“Parah juga ya Pak.” ujarku agak sedikit lemes.

“Seharusnya kan begini Boy, kalau ada dana bantuan dari pemerintah untuk apalah namanya, apakah itu untuk Biaya Operasional Sekolah, atau untuk perawatan sekolah, Kepala Sekolah harus memberitahukan hal ini kepada para wali murid lewat surat yang diberikan pada siswa untuk disampaikan pada orang tua mereka. Apalagi kalau Kepala Sekolah itu hendak meminta bantuan dari wali murid untuk biaya operasional atau perawatan, Kepala Sekolah harus menyampaikan dengan transparan berapa dana yang diterima dari pemerintah, untuk apa dana itu digunakan, dan berapa kekurangannya. Dan yang dibantu oleh para wali murid hanya kekurangannya saja, itupun kalau para wali murid bersedia, jadi tidak ada pemaksaan.”

“Tapi dalam kenyataannya adalah para kepala sekolah itu banyak cari “KELEBIHAN” bukan untuk menutupi “KEKURANGAN,” sehingga kalau ada kepala sekolah yang punya rumah atau mobil bagus atau rumah mentereng yang tak wajar untuk gaji seorang kepala sekolah, maka dia wajar untuk diduga atau bahkan dituduh KORUPSI.”

“Jadi kalau ada pemberitaan tentang kepala sekolah melakukan tindakan KORUPSI, memang begitulah kenyataannya, bagaimana negara ini mau BERSIH, para pendidik pun mengasih TAULADAN yang tak pantas sebagai seorang pendidik, belum lagi ada kelas tambahan yang dipaksakan GURU pada muridnya.” jelasnya dengan mimik wajah sedikit sedih.

“oooh oooh oooh begitu ya Pak.” aku bengong dan manggut-mangut paham, tentang jurus korupsi sekolah.

“Terimakasih Pak, akhirnya aku benar-benar tahu bagaimana jurus korupsi aman di sekolah.” sambil berguman dalam hati, Tunggu ya waktunya kalau aku jadi kepala sekolah nanti, akan kupraktekan juga…ha ha ha ha ha, akhirnya aku bisa kaya juga walaupun cuma kepala sekolah.” CUMA MIMPI. (Hendri)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu